Minimarket Guru Untuk Belajar Pengurangan

Oleh:

Nikmatul Husna                           (nikmatulhusna13@gmail.com)

Sri Rejeki                                      (srirejeki345@rocketmail.com)

A.    PENDAHULUAN

Dalam pembelajaran matematika, operasi penjumlahan dan pengurangan merupakan salah satu materi yang sangat penting untuk dikuasai siswa karena berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, ketika siswa membeli sebuah buku dengan harga Rp. 5.400, 00 dan membayar dengan uang sebesar Rp. 10.000,00, maka siswa harus bisa menentukan besarnya uang kembalian yang akan diterima. Di samping itu, pengusaan operasi penjumlahan dan pengurangan merupakan  kemampuan dasar untuk mempelajari operasi perkalian, pengurangan dan materi-materi lain pada tingkat yang lebih tinggi.

Akan tetapi pada kenyataannya, tidak semua siswa dapat memahami materi ini dengan mudah. Siswa tidak mengalami kesulitan pada soal-soal yang hanya melibatkan sedikit angka karena sudah dipelajari di kelas sebelumnya. Akan tetapi, semakin banyak angka pada bilangan yang dioperasikan siswa menjadi kesulitan khususnya pada operasi penjumlahan dan pengurangan yang melibatkan peminjaman. Siswa cenderung hanya menunggu instruksi dari guru tentang langkah apa yang harus dilakukan. Hal ini menyebabkan penguasaan yang tidak menyeluruh dan ingatan yang pendek karena ketika diberikan lagi soal yang berbeda siswa tetap mengalami kesulitan.

Salah satu hal yang menyebabkan permasalahan ini adalah kegiatan pembelajaran yang kurang inovatif. Pembelajaran diberikan dengan memberikan contoh soal, dilanjutkan dengan memberikan soal-soal yang sejenis dengan asumsi siswa dapat mengerjakan berdasarkan contoh yang telah diberikan oleh guru. Terbatasnya dana, sarana dan pengetahuan tentang bagaimana mendesain pembelajaran yang menarik dan bermakna bagi siswa menjadi penyebab dari masih diterapkannya pembelajaran konvensional di sekolah. Dibutuhkan lebih dari kemampuan mengajar untuk membuat pembelajaran lebih bermakna bagi siswa dan dengan pengetahuan tentang berbagai macam strategi pembelajaran, guru dapat merencanakan pembelajaran sesuai dengan karakter materi yang akan diajarkan dengan memanfaatkan media pembelajaran yang murah dan bisa diperoleh dengan mudah.

Berdasarkan uraian di atas, siswa membutuhkan pengalaman belajar yang menggunakan konteks dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang inovatif didukung penggunaan media diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa pada penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Oleh karena itu, dalam pembelajaran ini, designer mencoba mengemukakan salah satu bentuk pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan ntuk materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat kelas V di SD Negeri 98 Palembang. Dalam penyampaian pembelajaran ini desainer dan guru menggunakan konteks minimarket menggunakan kardus-kardus dan botol-botol bekas yang telah diberi label harga.

Desain pembelajaran ini bertujuan agar siswa mampu meningkatkan  keterampilan memahami konsep pengurangan bilangan bulat dengan menggunakan konteks dalam kehidupan sehari-hari menggunakan barang-barang bekas yang murah dan mudah diperoleh serta memberikan pengetahuan tambahan bagi guru  tentang  pembelajaran menggunakan pendekatan PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) sehingga menambah wawasan guru dalam melaksanakan pembelajaran matematika di kelas.

B.     DESIGN RESEARCH

1.      Preliminary Design

1.1 Analisis Kurikulum

Sebelum observer membuat desain pembelajaran, observer melakukan analisis terhadap kurikulum Kelas III SD semester 1. Materi ini terdapat pada kompetensi dasar kedua yaitu penjumlahan dan pengurangan tiga angka, dalam standar kompetensi pertama, melakukan operasi hitung bilangan sampai tiga angka. Materi ini merupakan materi pengayaan karena sudah melibatkan bilangan empat angka sekaligus sebagai pengenalan nilai uang yang akan dipelajari siswa pada kompetensi dasar kelima yaitu memecahkan masalah perhitungan termasuk yang berkaitan dengan uang.

1.2 Desain Pembelajaran

Kegiatan diawali dengan melakukan observasi pembelajaran seperti yang telah dilaporkan pada laporan pra-observasi. Berdasarkan observasi tersebut, siswa cukup tertib dalam pembelajaran. Akan tetapi mereka cenderung pasif dan selalu menungggu instruksi dari guru untuk melakukan langkah-langkah perhitungan. Selain itu, siswa kesulitan untuk mengerjakan soal cerita dan pengurangan yang melibatkan peminjaman. Oleh karena itu, desainer bekerjasama dengan guru kelas mencoba merancang desain pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan motivasi serta kemampuan matematika siswa.

Berdasarkan hasil diskusi dengan guru, maka ditetapkan bahwa pembelajaran yang akan diajarkan selanjutnya adalah materi pengurangan bilangan bulat di kelas III, agar lebih merangsang minat siswa untuk belajar maka desainer ingin menggunakan konteks minimarket guru dengan bantuan kardus-kardus dan botol-botol bekas yang telah ditempeli label harga. Saat berkonsultasi dengan guru, desainer menganggap bahwa sebagian besar siswa tentunya sudah mengenal harga dan tidak asing dengan aktivitas berbelanja, sehingga pengetahuan yang dimiliki siswa tersebut tentunya akan mempermudah dalam pemahaman siswa nantinya.

Untuk media pembelajaran, guru mengumpulkan kardus-kardus bekas dan botol-botol bekas dan menempelkan label harga. Selain itu, guru menggunakan uang mainan yang akan dibagikan pada setiap kelompok dengan nominal tertentu. Uang mainan tersebut harus digunakan untuk membeli barang-barang yang dijual oleh guru. Setiap kelompok harus menghitung besarnya belanjaan dan sisa uang kelompok mereka sebagaimana tertulis dalam Lembar Kerja Siswa. Dari hasil LKS akan terlihat berbagai macam cara atau strategi yang digunakan siswa untuk menghitung sisa uang mereka dan siswa yang belum benar-benar memahami konsep pengurangan.

  Gambar 1. Lembar Kerja Siswa dan media pembelajaran

Berdasarkan desain pembelajaran tersebut, desainer memprediksi sebagian besar siswa akan menemui kesulitan dalam konsep pengurangan bilangan bulat ini khususnya pada pengurangan yang melibatkan peminjaman. Akan tetapi, dengan pembelajaran yang melibatkan benda-benda dan aktivitas yang nyata, diharapkan akan mempermudah pemahaman mereka. Berikut ini aktivitas siswa beserta dugaan pemikiran siswa yang dipaparkan secara detail.

Aktivitas 1: Guru menunjukkan barang-barang yang dijual di minimarket guru dan memberikan uang mainan kepada siswa

Aktivitas ini bertujuan untuk mengingatkan kembali tentang konsep penjumlahan karena guru memberikan satu lembar uang lima ribuan dan dua lembar uang dua ribuan. Di samping itu aktivitas ini juga sebagai pengenalan nilai uang kepada siswa yang merupakan materi pada kompetensi dasar kelima. Hal ini sesuai dengan karakteristik dari pendidikan matematika realistik yaitu intertwining atau keterkaitan antara konsep dalam matematika.

Deskripsi aktivitas: Guru meletakkan kardus-kardus bekas dan botol-botol bekas yang telah diberi label harga di depan kelas. Setiap kelompok mendapatkan satu lembar uang lima ribuan dan dua lembar uang dua ribuan. Setiap kelompok menjumlahkan uang yang mereka peroleh dan menuliskannya di LKS.

Aktivitas 2: Setiap kelompok berbelanja di minimarket guru dengan menggunakan uang yang telah diberikan 

Aktivitas ini bertujuan untuk memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide tentang barang apa yang harus dibeli agar besarnya pembelian tidak melebihi uang  yang dimiliki. Selain itu, siswa dilatih untuk bekerjasama untuk membuat keputusan.

Deskripsi aktivitas: Siswa menggunakan uang yang telah diberikan untuk membeli barang-barang di minimarket guru dengan catatan besarnya pembelian tidak lebih dari Rp. 9.000,00. Barang-barang yang telah dibeli dibawa ke dalam kelompok dan dituliskan dalam daftar pembelian yang terdapat di LKS.

Aktivitas 3: Setiap kelompok menghitung sisa uang setelah melakukan pembelian 

Aktivitas ini bertujuan untuk menanamkan konsep pengurangan berulang pada siswa khususnya pada pengurangan yang melibatkan peminjaman. Siswa diharapkan tidak mengalami kesulitan karena pembelajaran pengurangan yang tidak berulang sudah terlebih dahulu dipelajari pada pertemuan sebelumnya.

Deskripsi aktivitas: Siswa menghitung sisa uang mereka setelah melakukan pembelian. Pada aktivitas ini siswa dibebaskan untuk menggunakan cara pengurangan berulang atau menggunakan cara operasi campuran.

2.      Teaching Experiment

Seperti telah disebutkan pada bagian pendahuluan, pembelajaran ini dilaksanakan di kelas III SD Negeri 98 Palembang selama satu kali pertemuan, tepatnya pada tanggal 30 September 2011 dengan guru pengajar Ibu Ratna, S.Pd. Siswa yang terlibat sebanyak 29 siswa.

Adapun pelaksanaan pembelajaran ini dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Guru menjelaskan pada siswa mengenai pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu tentang pengurangan bilangan bulat. 2) Guru memberikan apersepsi secara klasikal, memberikan contoh soal dengan konteks pedagang kambing menyesuaikan Idul Adha yang baru saja terjadi. 3) Siswa membentuk kelompok yang terdiri dari 3-4 siswa. 4) Guru memberikan Rp. 9.000,00 pada masing-masing kelompok untuk dibelanjakan pada minimarket guru yang telah disiapkan di depan kelas. 5) Siswa mengerjakan LKS dengan bimbingan guru.

 Gambar 2. Guru menyiapkan minimarket di depan kelas

Guru membagikan uang sebesar Rp. 9.000,00 kepada masing-masing kelompok. Terdapat delapan kelompok di mana lima kelompok terdiri dari empat orang dan tiga kelompok terdiri dari tiga orang. Masing-masing kelompok secara bergiliran berbelanja di minimarket guru di depan kelas dengan catatan jumlah belanjaan kelompok tidak boleh melebihi uang yang mereka punya yaitu sebesar Rp. 9.000,00.

 Gambar 3. Siswa menentukan besar uang yang mereka terima

Di luar perkiraan desainer, siswa tidak mengalami kesulitan untuk menentukan uang besarnya uang yang mereka terima meskipun guru memberikannya dalam pecahan satu lembar lima ribuan dan dua lembar dua ribuan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena siswa sudah sangat akrab dengan nilai uang. Pada saat beerbelanja, beberapa kelompok berbelanja lebih dari Rp. 9.000,00 karena hanya menjumlahkan angka ribuan pada tiap label harga tanpa mempertimbangkan angka ratusan, puluhan dan satuannya. Akan tetapi, ketika mereka menyadari kesalahannya, siswa segera mengganti dengan membeli barang yang lain.

 Gambar 4. Siswa memilih barang yang akan dibeli

Namun sedikit berbeda ketika siswa diminta untuk menghitung sisa uang mereka karena siswa mengalami kesulitan untuk menentukan operasi pengurangan atau penjumlahan yang harus mereka terapkan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Sebagian kelompok dapat menyelesaikan dengan benar dengan menjumlahkan terlebih dahulu semua belanjaan baru kemudian mengurangkannya dari besarnya uang mula-mula. Sebagian yang lain dapat menyelesaikan dengan benar dengan mengurangkan harga belanjaan satu per satu.

Gambar 5. Siswa Menghitung besarnya belanja

Masalah lain yang terjadi adalah ketika siswa kesulitan untuk mengurangkan pengurangan yang melibatkan peminjaman seperti 9000 – 4571. Guru kemudian menjelaskan kembali kepada kelompok-kelompok yang belum bisa menemukan jawaban yang benar. Guru memberikan bimbingan pada setiap kelompok untuk menemukan jawaban yang benar dengan tetap mendorong siswa untuk mengemukakan ide mereka terlebih dahulu. Dengan kata lain, guru hanya sebagai fasilitator dan motivator yang membimbing siswa untuk menemukan jawaban sendiri.

Setelah semua siswa menemukan sisa uang mereka, masing-masing wakil kelompok menuliskan sisa uang tersebut di papan tulis. Secara sekilas, guru mengajak siswa membandingkan sisa uang pada tiap kelompok. Sebagai penguatan, guru memberikan beberapa contoh soal yang dikerjakan secara klasikal. Pembelajaran diakhiri dengan memberikan Pekerjaan Rumah.

3.      Retrospective Analysis

Dari hasil refleksi, desainer dan guru beranggapan bahwa:

  1. Secara umum, siswa tidak mengalami kesulitan dalam menjumlahkan nilai uang.
  2. Beberapa siswa mengalami kesulitan dalam menjumlahkan bilangan karena mengabaikan nilai angka ratusan, puluhan dan satuan.
  3. Sebagian siswa masih kesulitan untuk menentukan operasi apa yang diterapkan untuk menyelesaikan soal.
  4. Kesalahan yang dibuat siswa sebagian besar karena siswa kurang teliti pada pengurangan yang melibatkan peminjaman.

Pada poin (a) siswa tidak mengalami kesulitan dalam menjumlahkan nilai uang. Hal ini dimungkinkan karena siswa sudah belajar penjumlahan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Selain itu, hal-hal yang berkaitan dengan uang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa dapat dengan mudah menjumlahkan nilai uang yang diterima. Sebagaimana dikemukakan Freudenthal (1977) dalam Van Den Heuvel Panhuizen (2003) bahwa matematika harus dihubungkan dengan dunia nyata, dekat dengan siswa dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Akan tetapi, pada poin (b), (c) dan (d) menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang nilai tempat, operasi yang harus digunakan dan konsep pengurangan yang melibatkan peminjaman. Hal ini seperti yang dikemukakan Van de Walle (1994) dalam Teguh (2005) bahwa number sense dan pemahaman komputasi tidak dapat dikembangkan tanpa pemahaman yang kuat akan nilai tempat.

C.    PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang pembelajaran pada materi pengurangan bilangan bulat menggunakan pendekatan PMRI, dalam hal ini penggunaaan konteks minimarket guru, disimpukan sebagai berikut: Pertama, pembelajaran untuk materi pengurangan bilangan bulat dengan menggunakan desain pembelajaran yang berdasarkan konteks sesuai dengan pengetahuan siswa dapat meningkatkan keaktifan, kreativitas dan minat belajar siswa meskipun masih terdapat siswa yang pasif dan selalu menunggu langkah-langkah dari guru. Kedua,desain pembelajaran memberi kesempatan kepada desainer dan guru agar dapat berperan secara optimal untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa dan memberikan pengalaman langsung bagi siswa untuk memotivasi belajarnya.

D.    DAFTAR PUSTAKA

Van den Heuvel-Pahuinzen, M. 2003. The Didactical Use of Models in Realistic Mathematics Education: An Example From A Longitudinal Trajectory on Percentage. Educational Studies in Mathematics. Kluwer Academic Publisher: The Netherlands.

Teguh. 2005. Pembelajaran Konsep Nilai Tempat Bilangan Cacah Di Kelas Rendah Sekolah Dasar. Indonesian Scientific Journal Database. Vol. 1, No. 2,  pp. 71-86.

Untuk selengkapnya silahkan klik di sini Indonesian VersionEnglish Version

 

Categories: Classroom Observation | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: