Menemukan Konsep Kecepatan Dengan Konteks Alat-Alat Transportasi

Oleh:

Nikmatul Husna        (nikmatulhusna13@gmail.com)

 Sri Rejeki                  (srirejeki345@rocketmail.com)

 

A.    PENDAHULUAN

Contoh penggunaan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah masalah waktu. Supaya kita dapat menjalankan aktivitas dengan lancar, kita harus mampu mengatur waktu dengan baik. Seorang siswa harus mampu melakukan perhitungan secara sederhana sebelum berangkat ke sekolah supaya mereka tidak terlambat. Hal ini berkaitan dengan masalah waktu mereka berangkat, jarak yang harus mereka tempuh dan kecepatan dari alat transportasi yang mereka gunakan.

Salah satu materi yang dipelajari di Sekolah Dasar adalah jarak dan kecepatan. Materi ini dipelajari di kelas V SD pada semester 1. Siswa harus memahami materi ini dengan baik, karena akan berkaitan langsung dengan permasalahan yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, materi ini juga akan berkaitan dengan materi pada mata pelajaran lain yaitu Ilmu Pengetahuan Alam. Oleh karena itu, siswa tidak hanya sekedar untuk menghafal rumusnya, tetapi benar-benar memahami konsep dari jarak dan kecepatan.

Pada kenyataannya di lapangan, ditemukan bahwa guru cenderung langsung memberikan rumus kecepatan kepada siswa. Akibatnya siswa mengalami kebingungan dalam mengerjakan soal-soal. Sebagian besar siswa akan bingung ketika dilakukan perubahan pada soal, misalnya menghitung jarak jika diketahui kecepatan dan waktu atau menghitung waktu jika diketahui jarak dan kecepatan.

Berdasarakan permasalahan di atas, hendaknya proses pembelajaran yang dilaksanakan adalah pembelajaran bermakna bagi siswa. Siswa dibimbing dalam menemukan konsep-konsep dari permasalahan yang nyata di sekitar mereka. Proses pembelajaran yang mengawali pembelajaran dengan permasalahan kontekstual adalah Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Freudenthal  tentang didactical phenomonolgy. Didaktikal fenomonologis adalah menggunakan analisis dari kejadian di dunia nyata sebagai sumber dari matematika. Hal yang penting dalam didaktikal fenomonologis adalah fenomena-fenomena nyata yang terjadi dapat meberikan kontribusi dalam matematika, bagaimana siswa dapat menghubungkan fenomena-fenomena tersebut dan bagaimana konsep-konsep muncul kepada siswa. (Freudenthal,2002:12)

Berdasarkan uraian di atas, observer beserta guru kelasV mendesain pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik PMRI. Pembelajaran di awali dengan memberikan permasalahan kepada siswa mengenai jarak dan kecepatan. Setelah itu siswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan pola pikirnya dalam memecahkan masalah yang diberikan.

Kegiatan pembelajaran ini dilaksanakan pada hari Senin, 12 November 2012, di kelas VA pada Sekolah Dasar Negeri 98. Siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran ini berjumlah 36 siswa yang terdiri 21 orang laki-laki dan 15 orang perempuan. Kegiatan pembelajaran ini dilaksanakan secara bekerja sama dengan guru matematika kelas VA yaitu Ibu Msy Melita Septiana, S.Pd.

 B.     DESIGN RESEARCH

1.      Preliminary Design

1.1 Analisis Kurikulum

Pada tahap ini kedua observer dan guru kelas V melakukan analisis materi berdasarkan kurikulum, sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada topik yang telah ditentukan. Di Kelas V SD semester 1, materi tentang kecepatan khususnya pada indikator menyelesaikan soal yang berkaitan dengan kecepatan terdapat pada standar kompetensi kedua yaitu menggunakan pengukuran waktu, sudut, jarak dan kecepatan dalam pemecahan masalah. Sedangkan kompetensi dasarnya adalah menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan waktu, jarak dan kecepatan.

1.2 Desain Pembelajaran

Kegiatan mendesain pembelajaran dilakukan oleh kedua observer dengan ibu Msy Melita Septiana, S.Pd., guru kelas VA yang sekaligus berperan sebagai guru matematika di kelas tersebut. Desain pembelajaran dibuat dengan mempertimbangkan hasil wawancara dengan guru kelas mengenai pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru pada materi kecepatan. Pada kegiatan pembelajaran, guru secara langsung memberikan rumus kecepatan kepada siswa. Pembelajaran dilanjutkan dengan memberikan beberapa contoh soal dan memberikan latihan soal untuk menghitung kecepatan yang diketahui secara eksplisit jarak dan waktunya. Kelemahannya adalah, hanya sedikit siswa yang dapat menjawab dengan benar ketika dilakukan perubahan pada soal, misalnya menghitung jarak jika diketahui kecepatan dan waktu atau menghitung waktu jika diketahui jarak dan kecepatan. Sebagian besar siswa masih menggunakan prinsip penghitungan yang sama tanpa memperhatikan hubungan antara jarak, waktu dan kecepatan. Hal ini dimungkinkan karena siswa hanya menghafal rumus dan kurang memahami konsep kecepatan.

Observer dan guru mendesain rencana pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Pembelajaran diawali dengan konteks alat-alat transportasi yang biasa digunakan siswa ke sekolah dan mencatat jarak rumah ke sekolah serta waktu tempuh siswa jika menggunakan alat transportasi tersebut. Penggunaan konteks ini dilakukan dengan anggapan bahwa kondisi tersebut dialami oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Tahap selanjutnya diberikan permasalahan kepada siswa  di dalam Lembar Kerja Siswa dengan konteks yang sama yang memuat pertanyaan-pertanyaan untuk membawa siswa memahami konsep kecepatan.

Gambar 1. LKS yang digunakan dalam pembelajaran

Kegiatan pembelajaran yang direncanakan adalah diskusi secara berkelompok. Pembagian kelompok didasarkan pada kemampuan akademik, sesuai dengan prestasi siswa pada pelajaran matematika dan pertimbangan guru kelas terhadap kemampuan siswa, sehingga setiap kelompok terdiri dari siswa-siswa dengan kemampuan yang heterogen. Hal ini diharapkan dapat memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran karena dengan kelompok yang heterogen, siswa yang berkemampuan tinggi diharapkan dapat membantu temannya yang mengalami kesulitan. Berikut aktivitas siswa beserta konjektur atau dugaan pemikiran siswa.

Aktivitas 1: Siswa menentukan alat transportasi mana yang paling cepat untuk mengantarkan Dora ke sekolah

Aktivitas ini merupakan langkah awal untuk membuat siswa mengerti tentang konsep kecepatan. Soal pada aktivitas pertama ini melibatkan jarak (dalam satuan kilometer) dan waktu (dalam satuan jam). Satuan untuk jarak dan waktu telah dipelajari siswa pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Aktivitas ini sesuai dengan karakteristik dari pendidikan matematika realistik yaitu intertwining atau keterkaitan antar konsep dalam matematika dan keterkaitan antara konsep matematika dengan mata pelajaran yang lain, dalam hal ini Ilmu Pengetahuan Sosial yang mempelajari tentang transportasi.

Deskripsi aktivitas: Setiap kelompok berdiskusi untuk menentukan alat transportasi mana yang paling cepat mengantarkan Dora ke sekolah dan memberikan alasan atas jawaban yang telah disepakati oleh kelompok.

Dugaan pemikiran siswa:

  • Siswa akan dengan mudah menentukan alat transportasi yang paling cepat dan dapat memberikan alasan dengan membandingkan jarak yang ditempuh selama satu jam.
  • Siswa akan dengan mudah menentukan alat transportasi yang paling cepat dan memberikan alasan berdasarkan pengetahuan siswa tentang alat transportasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
  • Siswa akan dengan mudah menentukan alat transportasi yang paling cepat, akan tetapi mengalami kesulitan untuk memberikan alasan atas jawabannya.
  • Siswa tidak mampu menentukan alat transportasi yang paling cepat.

Aktivitas 2: Menemukan konsep kecepatan dari hubungan antara alat transportasi tercepat dengan jarak rumah Dora ke sekolah

Pada aktivitas kedua ini siswa dibawa untuk dapat menemukan konsep kecepatan dengan menghubungkan alat transportasi tercepat yang telah terpilih di aktivitas satu dan jarak rumah dora ke sekolah. Aktivitas ini dapat berjalan dengan baik apabila siswa memahami konsep mengkonversi satuan waktu dan jarak.

Deskripsi aktivitas: Guru membimbing siswa dalam menemukan konsep kecepatan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan lama perjalanan untuk menempuh jarak yang lebih dekat dari jarak yang ditempuh selama satu jam dengan menggunakan alat transportasi yang telah terpilih pada aktivitas satu hingga siswa menemukan waktu yang diperlukan Dora untuk menempuh jarak 5 km dari rumahnya ke sekolah.

Dugaan pemikiran siswa:

  • Siswa dapat dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dengan mengubah satuan waktu dari jam ke menit.
  • Siswa hanya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu yaitu untuk jarak-jarak istimewa seperti setengah atau seperempat dari jarak yang ditempuh selama satu jam .
  • Siswa tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.

Aktivitas 3: Menemukan konsep kecepatan yang merupakan jarak yang ditempuh tiap satuan waktu

Pada aktivitas ketiga ini siswa dibawa untuk dapat menemukan konsep kecepatan dengan mereduksi jarak yang ditempuh hingga siswa menemukan jarak yang ditempuh tiap satu satuan waktu.

Deskripsi aktivitas: Dari hasil yang telah diperoleh pada aktivitas kedua, secara klasikal guru membimbing siswa untuk menemukan jarak yang ditempuh jika waktu tempuh dikurangi hingga satu satuan waktu dan membandingkan dengan jarak yang ditempuh selama satu jam sebagaimana telah diketahui pada soal. Dari kedua kasus ini guru mengajak siswa untuk membuat kesimpulan tentang konsep kecepatan.

Dugaan pemikiran siswa:

  • Siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan, menemukan hubungan antara kedua kasus dan menyimpulkan konsep kecepatan.
  • Siswa hanya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tetapi tidak dapat menemukan hubungan antara kedua kasus dan menyimpulkan konsep kecepatan.
  • Siswa tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan, tidak dapat menemukan hubungan antara kedua kasus dan tidak dapat menyimpulkan konsep kecepatan.

2.      Teaching Experiment

Pada kegiatan pembelajaran ini yang berperan sebagai guru adalah Ibu Meli, S.Pd, guru kelas VA SD Negeri 98 Palembang, sedangkan kedua mahasiswa bertindak sebagai observer. Kegiatan pembelajaran di awali dengan pembahasan PR. Setelah semua PR selesai dibahas,  guru memberikan apersepsi dengan konteks alat-alat transportasi. Pada kegiatan ini guru juga memberikan motivasi tentang pentingnya belajar matematika khususnya pada materi kecepatan. Guru bertanya kepada beberapa siswa tentang alat-alat transportasi yang biasa digunakan ke sekolah dan mendaftarkan alat-alat transportasi tersebut di papan tulis. Dari jawaban siswa, hanya terdapat tiga alat transportasi yaitu becak, motor dan angkot. Selanjutnya, guru meminta siswa untuk membandingkan alat transportasi mana yang tercepat dari ketiga alat transportasi tersebut.

Selanjutnya, guru membagi siswa-siswa dalam kelompok di mana masing-masing kelompok terdiri dari 4 siswa. Jumlah keseluruhan siswa adalah 37 siswa, namun yang hadir hanya 36 siswa. Dengan demikian kelompok yang terbentuk sebanyak 9 kelompok. Pada setiap kelompok diberikan Lembar Kerja Siswa untuk  dikerjakan secara bersama-sama. Pada pembentukan kelompok ini siswa cukup tertib sehingga tidak memerlukan waktu yang lama.

Pada aktivitas pertama tentang membandingkan alat transpotasi mana yang paling cepat, hampir setiap kelompok dapat menjawab dengan cepat dan benar. Akan tetapi, siswa tidak mampu memberikan penjelasan ketika guru menanyakan alasannya. Pada kelompok yang belum bisa menemukan jawaban, guru memberikan bimbingan dengan membandingkan alat transportasi tersebut satu persatu hingga diperoleh alat transportasi yang paling cepat. Aktivitas pertama terlihat pada gambar berikut.

Gambar 2. Siswa memahami dan mengerjakan soal dalam kelompok

Gambar 3. Guru memberi petunjuk pada kelompok yang mengalami kesulitan

Pada aktivitas kedua, hanya terdapat dua kelompok yang dapat menemukan jawaban benar dengan penjelasan yang benar, satu kelompok menemukan jawaban benar tapi kesulitan memberikan penjelasan dan keenam kelompok yang lain kesulitan untuk menemukan jawaban yang benar. Guru membimbing siswa dalam menemukan jawaban yang benar dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan .

Dari masalah ini siswa mulai mengerti bahwa jarak 5 km dapat ditempuh dalam waktu 5 menit. Akan tetapi, masih terdapat beberapa kelompok yang menjawab 1 jam dikarenakan siswa mengabaikan fakta bahwa dalam 1 jam perjalanan dengan ojek dapat menempuh jarak 60 km. Oleh karena itu, guru kembali memberikan pertanyaan-pertanyaan sehingga siswa mengerti kekeliruan pada jawaban mereka dan menemukan jawaban yang benar.

Gambar 4. Hasil pekerjaan salah satu kelompok

Kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan presentasi yang dilakukan oleh perwakilan dari dua kelompok. Kegiatan ini di awali dengan siswa menuliskan jawabannya di papan tulis, setelah itu siswa memberikan penjelasan kepada teman-temannya. Dengan mendengarkan penjelasan yang diberikan temannya, kelompok yang masih ragu dengan permasalahan yang diberikan akan sangat terbantu sekali.

Gambar 5. Salah satu kelompok mempresentasikan jawaban

Sebagai aktivitas ketiga, secara klasikal guru membimbing siswa untuk menemukan hubungan antara jarak, waktu dan kecepatan sehingga siswa menjadi mengerti bahwa kecepatan adalah jarak yang ditempuh tiap satuan waktu. Pada kegiatan ini hanya beberapa siswa yang dapat mengambil kesimpulan.

Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, siswa cukup tertib meskipun ada beberapa siswa yang mengganggu kelompok lain dan kurang memberikan kontribusi pada kelompoknya. Siswa masih kesulitan untuk memahami kalimat dalam soal sehingga guru masih harus memberikan penjelasan tambahan. Kegiatan evaluasi tidak terlaksana karena manajemen waktu yang belum optimal.

3.      Restrospective Analysis

Setelah mengimplementasikan desain pembelajaran yang telah dirancang, observer dan guru kelas V melakukan refleksi. Secara keseluruhan proses belajar mengajar berlangsung dengan baik. Siswa secara aktif mengikuti semua kegiatan pembelajaran dan terjalin kerjasama yang baik antar sesama anggota kelompok karena siswa harus saling bertukar ide dalam menyelesaikan pekerjaan yang diberikan.

Pada kegiatan apersepsi guru bertanya pada siswa tentang alat-alat transportasi yang biasa digunakan ke sekolah, mendaftarkan alat-alat transportasi tersebut di papan tulis dan meminta siswa untuk membandingkan alat transportasi mana yang tercepat dari ketiga alat transportasi tersebut. Siswa dengan mudah menentukan alat transportasi yang tercepat, akan tetapi siswa kesulitan dalam menjelaskan alasannya. Demikian juga pada soal di aktivitas pertama, sebagian besar siswa dapat dengan cepat menyebutkan alat transportasi yang paling cepat, akan tetapi siswa kesulitan untuk menjelaskan alasannya. Seharusnya siswa dapat dengan mudah menjelaskan alasannya karena sudah mempelajari tentang satuan kecepatan pada pertemuan sebelumnya.

Di aktivitas kedua, sebagian besar kelompok mengalami kesulitan dalam memahami maksud soal, menentukan cara menjawab pertanyaan dan menemukan jawaban yang benar. Kemungkinan hal ini disebabkan karena siswa belum terbiasa dengan soal cerita pada materi kecepatan. Pada materi satuan kecepatan yang dipelajari di pertemuan sebelumnya, siswa mengerjakan soal yang telah diketahui jarak dan waktu secara eksplisit. Selain itu, kemungkinan lain siswa mengalami kesulitan karena bahasa yang digunakan dalam Lembar Kerja Siswa kurang bisa dimengerti oleh siswa.

Pada aktivitas ketiga, hanya beberapa siswa yang berani mengemukakan kesimpulan. Hal ini dimungkinkan karena siswa takut akan memberikan jawaban yang salah. Kemungkinan lain adalah pada proses pembelajaran hanya memberikan satu contoh permasalahan, sehingga siswa tidak punya banyak referensi sebagai dasar untuk membuat kesimpulan tentang konsep kecepatan.

Setiap kegiatan  yang telah direncanakan tidak dapat semuanya terlaksana. Kegiatan evaluasi pada materi kecepatan tidak dapat dilaksanakan. Hal ini karena manajemen waktu yang kurang optimal khususnya waktu untuk membahas PR yang terlalu lama. Gangguan pembelajaran hanya muncul dari beberapa siswa yang mengganggu kelompok lain dan kurang memberikan kontribusi pada kelompoknya. Dalam menyikapi hal ini diperlukan instruksi yang lebih tegas dari guru untuk menanggulangi gangguan-gangguan pembelajaran seperti ini.

Dalam pendidikan matematika realistik dikenal adanya iceberg yang mendeskripsikan bagaimana proses pemahaman siswa tentang konsep matematika dari hal-hal yang nyata sampai kepada tahap formal, dimana siswa mengerti tentang simbol abstrak matematika yang digambarkan pada grafik berikut ini.

Gambar 6. Iceberg dalam pembelajaran konsep kecepatan

C.    PENUTUP

Berdasarkan pengamatan kedua observer dan hasil refleksi dengan guru kelas, pada pembelajaran tentang materi kecepatan dengan konteks alat-alat transportasi, para siswa dapat melakukan aktivitas dengan baik. Siswa telah mengetahui bahwa kecepatan adalah jarak yang ditempuh per satuan waktu. Tidak terdapat gangguan pembelajaran yang berarti karena siswa relatif tertib meskipun ada beberapa siswa yang berjalan-jalan di kelas ketika diskusi kelompok berlangsung.

Akan tetapi, tidak setiap kegiatan  yang telah direncanakan dapat terlaksana. Kegiatan evaluasi pada materi kecepatan tidak dapat dilaksanakan meskipun observer dan guru telah menyiapkan dua buah soal tentang kecepatan. Hal ini dikarenakan manajemen waktu yang kurang optimal khususnya waktu untuk membahas PR yang terlalu lama

 

D.    DAFTAR PUSTAKA

Freudenthal, Hans. 2002. Didactical Phenomonology of Mathematical Structures. Kluwer Academic Publisher:New York

Untuk selengkapnya silahkan kli di sini Indonesian VersionEnglish Version

/li/p/p

Categories: Classroom Observation | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: